Puisi-Puisi Perempuan Hebat Menggema di Malam Budaya FORHATI

Jakarta — Malam Budaya Baca Puisi; Perempuan Untuk Indonesia yang digelar  Majelis Nasional Forum Alumni HMI Wati (FORHATI) untuk memperingati Hari Kartini, Minggu malam, di Gedung Perpustakaan Nasional,  berakhir sukses. Pembaca puisi utama yakni Ibu Mufidah Jusuf Kalla mendapat aplaus yang luar biasa.

Begitu pula dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mendapat sambutan meriah. Apalagi puisinya dibuat saat mendampingi Presiden Jokowi KTT Asean d Singapura.

Anggota DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas pun dengan apik membacakan puisi-puisi dari N Syamsuddin Ch Haesy. Yang menarik, Wakil Gubernur Sandiaga Uno sebelum membacaan puisi-puisi dari Gus Mus (Mustafa Bisri) lebih dulu berpantun. Dua pantun langsung disampaikan.

Ketua MPR Zulkifli Hasan yang datang bersama istri juga disambut kagum oleh hadirin yang sebagian besar kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Zulkifli membacakan puisi karya-karya Taufiq Ismail yang berjudul  Berjuta Mereka, Berjuta Ibunda Kita. Sebelum membaca, Zulkifli Hasan bercierita bagaimana ia dibesarkan bundanya di kampung.

“Makanya puisi ini saya persembahkan untuk ibunda, perempuan hebat yang punya cinta semesta, cinta pada keluarga, cinta pada kampung halaman dan tanah airnya,” ungkap Ketua Umum DPP PAN ini.

Zulkifli  Hasan juga sempat membuat tawa hadirin karena merasa dirinyalah paling tidak pandai berpuisi. “Dengan ini saya mencoba berpuisi dengan kekuatan yang ada,” celotehnya.

Yang mendapat sambutan luar biasa adalah Koordinator Presidium Majelis Nasional FORHATI, Hanifah Husein. Istri dari Ferry Mursyidan Baldan ini memberi sambutan dengan berpuisi yang berjudul Perempuan Indonesia.

Salam Bagimu Ibu Pertiwi, Inbu Indonesia. Salam bagimu perempuan-perempuan berkerudung cinta dab kasih sayang,” sambut Hanifah dengan puisinya.

“Salam bagimu para ibu nan elok pikir, cantik rupa dan halus budi, yang dari rahimnya mengalir cinta dan kasih sayang. Tempat para bayi berselimut iman dan ahlaq yang kelak akan memimpin negeri sepenuh cinta,” kata Hanifah.

Di akhir  puisinya, Hanifa menutup dengan kalimat: “Perempuan adalah pilar bangsa. Mulia perempuannya berjaya bangsanya. Hina perempuannya roboh bangsanya.”

Sastrawan Tauifiq Ismail tampi dengan puisi berjudul Laksamana Malahayati. Sebelum berpuisi, Taufiq yang dikenal sebaai begawan sastra ini berkelakar bahwa dirinya menyiapkan tujuh puisi tentang kepahlawanan perempuan.

Yaitu Kartini, Dewi Sartika, Martina Marthatiahahu, Tjut Nyak Dien, Rohana Kudus, dan Rasuna Said. “Tapi saya hanya dapat satu, yaitu Laksamana Malahayati,” kata pencipta lirik lagu-lagi religius Bimbo ini.

Puisi tentang kisah Laksamana Malahayati itu diceritakan secara detail. Dikatakan Malahayati adalah panglima angkatan laut pertama di dunia. Malahayati pemimpin panglima perang Kesultanan Aceh yang tesohor berkat keberaniannya melawan armada angkatan laut Belanda dan Portugis abad ke-16 M.

Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh pada 1530-1539.

“Malahayati bertempur seorang diri dengan panglima Belanda Cornelis de Hautman di atas kapalnya. Cornelis de Hautman kalah dan armada Belanda menyerah,” kisah Taufiq Ismail dalam puisinya.

Tepuk tangan hadirin menggema. Ratu Hemas yang duduk di samping ibu JK termangu mendengar puisi ksah Malahayati itu. Apalagi, menurut kisah yang dipuisikan Taufiq adalah pejuang dengan pasukan para janda yang ditinggal mati sahid oleh suaminya.

Malam Budaya Baca Puisi MN FORHATI berakhir dengan sajian lagu-lagu Melayu dari Grup Band  Seroja Acoustic. Sebelum ditutup, ada selingan sesi acara pemotongan tumpeng oleh Ibu Ida Nazar Nasution yang berulang tahun. TILIK.ID,

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial